SHARE

Pemilihan presiden baru dilaksanakan kurang lebih satu tahun lagi. Sekarang sudah beredar nama-nama yang akan bersaing, seperti, Megawati, Akbar Tandjung, Amien Rais, Hamzah Haz, Yusril Ihza Mahendra, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Sjahrir, Surya Paloh, Hasyim Muzadi, dan Abu Rizal Bakrie.

Di antara calon-calon presiden itu, ada beberapa yang sudah buram di mata masyarakat dan mahasiswa untuk dipercaya memegang tampuk kepemimpinan Indonesia mendatang. Menelusuri track record masing-masing capres merupakan upaya untuk meneliti apakah mereka tidak pernah melakukan KKN? Seberapa besar respons masyarakat terhadap pencalonannya? Apakah gerakan politik mereka merugikan masyarakat?

Presiden Megawati -jika track record politiknya ditelusuri- merupakan salah satu korban Orde Baru. Dengan menggunakan simbol sebagai pembela wong cilik, ketua umum PDIP itu mampu meraih suara terbesar pada Pemilu 1999. Karisma sang ayah juga masih melekat pada dirinya.

Namun, sejak dia menjadi presiden, belum ada perbaikan berarti yang telah dilakukan. Hal lain yang masih mengganjal Mega untuk kembali bertarung pada pemilu nanti ialah UU Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden mengenai capres harus sarjana yang tengah digodok DPR.

Akbar Tandjung, di tubuh Partai Golkar sendiri, ketua DPR dan juga terdakwa itu akan mendapat rintangan yang cukup berat untuk dapat dicalonkan menjadi presiden. Nama yang disebut-sebut akan dicalonkan Golkar untuk menjadi kandidat calon presiden dalam Pemilu 2004, selain Akbar, adalah Jusuf Kalla, Susilo Bambang Yudhoyono, Agum Gumelar, Surya Paloh, Sultan Hamengkobuwono X, dan Nurcholish Madjid.

Di antara capres dari Partai Golkar itu, yang menguntungkan secara politis dan lumayan bersih adalah Nurcholish Madjid. Kalangan mahasiswa dan masyarakat menengah tentunya tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini. Guru bangsa, cendekiawan, ulama inklusif, pluralis, dan label lain melekat pada rektor Universitas Paramadina itu.

Secara mengejutkan, dia bersedia dicalonkan sebagai presiden dengan langsung membawa platform 10-nya, yang sudah barang tentu telah disusun sebelum kesediaannya bertarung menjadi orang pertama di negeri ini. Track record-nya memang bagus. Dalam dunia akademis, profilnya dapat diterima mahasiswa dan namanya mungkin tidak setara untuk disejajarkan dengan Surya Paloh, Syahrir, Abu Rizal Bakrie, dan Wiranto. Jika Cak Nur konsisten dengan pernyataannya “Islam Yes, Partai Islam No”, kecil kemungkinan Partai Islam akan mendukung dia pada Pemilu 2004.

Amien Rais. Seringnya dia tampil di media massa cetak maupun elektronik dengan komentarnya yang “berlebihan” serta tidak tegas terhadap kebijakan yang dilakukan pemerintahan Mega-Hamzah akan meredupkan sosoknya sebagai lokomotif reformasi. Kecakapan mantan ketua PP Muhammadiyah itu terletak pada ketangguhannya dalam berpolitik. Poros Tengah-lah yang mengganjal Megawati untuk menjadi presiden pada Pemilu 1999. Ketua MPR itu juga yang memukul palu dalam Sidang Istimewa untuk menjatuhkan Gus Dur dari kursi presiden.

Sementara itu, Hamzah Haz tidak punya peran berarti dalam kedudukannya sebagai wakil presiden. Dia lebih banyak berkampanye untuk persiapan Pemilu 2004 dengan melakukan kunjungan yang lebih terkesan sebagai kepentingan politik daripada kepentingan bangsa.

Selain itu, pendamping Megawati tersebut ternyata memiliki istri tidak hanya satu. Dia juga akan menemukan lawan poltik yang tangguh pada Muktamar V PPP, yaitu Bachtiar Chamsyah, yang mengangkat isu kaum muda karena PPP adalah partai orang tua.

Yusril Ihza Mahendra, kecakapan profesor muda ini dalam meraih simpati masyarakat kurang maksimal sehingga partai yang dipimpinnya tidak mendapatkan tempat yang layak dalam kategori sebagai partai besar pada Pemilu 1999.

Abdurrahman Wahid, mantan presiden IV RI, dengan percaya diri siap bertarung dalam pemilihan umum 2004. Pada masa kepemimpinannya, Gus Dur banyak mengalami cobaan dan godaan. Kebijakan dan pernyataannya mengundang kontroversi banyak kalangan, termasuk mahasiswa. Walaupun tidak ikhlas, dia harus menyerahkan kekuasaannya kepada Megawati. Pada Pemilu 2004, Gus Dur optimistis bersama partainya akan meraih suara lebih besar daripada pemilu sebelumnya.

***

Pemilihan umum secara langsung yang baru pertama dilakukan di negeri ini diperkirakan akan menambah kebingungan masyarakat untuk memilih capres pada Pemilu 2004. Ada calon presiden yang masih menjadi terdakwa, ada capres yang belum tamat kuliah (belum sarjana), ada capres yang hanya dikenal kalangan menengah, seperti Cak Nur dan Amien Rais, dan ada capres yang akan mengusung syariat Islam apabila kelak terpilih. Kebingungan tersebut bukan hanya terjadi pada masyarakat awam, tetapi juga mahasiswa.

Tentunya, akan menjadi preseden buruk dalam sejarah perpolitikan nasional jika pemilu nanti gagal melahirkan tokoh yang sejalan dengan harapan masyarakat.

Indopos, Kamis, 15 Mei 2003

David Krisna Alka

Sumber

 

 

SHARE
Next articleMitos Politis Bung Karno

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here