SHARE

“Makin kurang yang mereka pahami, maka mereka pun makin memuja sulap!” – Hudibras

Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra. Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu dalam bentuk karya sastra.

Begitu pula dengan pengarang Titie said (1935). Sosok pengarang wanita yang sering menggarap persoalan cinta yang dihubungkan dengan kehidupan keluarga. Model seperti itu juga banyak digarap oleh novelis lainnya seperti Lastri Fardani (1941), Yati Maryati Wiharja (1943-1985), Titiek W.S. (1938), Sri Bekti Subakir, Ike Supomo, La Rose, Marga T, Maria A. Sarjono, Nani Heroe, Nina Pane, Titik Viva, Sari Narulita, Tuti Nonka, dan lain-lain.

Dalam novel Deana Pada Suatu Ketika (Yayasan Obor, 2004),  Titie Said menggugah pembaca dengan menampilkan problema kehidupan seorang wanita tenar, berpredikat sebagai mantan ratu kecantikan, dan istri dari seorang pengusaha yang tampan, tapi wanita itu terkena virus HIV/AIDS.

“Mengapa harus aku? Mengapa bukan suamiku? Apakah virus yang menjalar pada tubuhku ini datang dari suamiku karena bersetubuh dengan pelacur penderita HIV/AIDS? Apakah kekuranganku?”

Menyentuh sekali Titie Said mengolah cerita novel barunya ini. Pertanyaan yang menggigit itu timbul dari sosok Deana, tokoh dalam novel ini.

Titie Said menggugah di mana kepedulian kita. Ia menekankan bahwa penderita HIV/AIDS harus diperhatikan dan penularannya harus dihentikan. Dari situ maka timbul pertanyaan, sejauh mana novel dapat meningkatkan kepedulian kita terhadap masalah HIV/AIDS?

Novel adalah salah satu karya sastra yang acapkali ceritanya menimbulkan dan memainkan rasa dan hati pembacanya. Menulis karya sastra seperti novel, bukanlah kreatifitas yang sekali duduk langsung jadi, menulisnya penuh pergulatan yang intens terhadap rasa bahasa yang memperbincangkan realitas kehidupan dengan pengarang. Penulis fiksi itu harus mampu menafsirkan kehidupan secara jitu. Karya fiksi, bukanlah sekedar seni yang menjiplak kembali alam kehidupan.

Nadine Gordimer, penulis perempuan terkemuka peraih Hadiah Nobel Sastra 1991 mengungkapkan, jika dilihat dari karya yang ditulis, penulis fiksi itu sendiri sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang fiktif.

Oleh mereka, kesusastraan menjadi penyamaran usang yang senantiasa ditelanjangi dengan senang hati; sebuah praktik kanibalisme intelektual yang dipertunjukkan. Imajinasi seorang penulis adalah barang jajahan yang diambil dari kehidupan orang lain.

Namun, untuk kebaikan bersama, tema-tema cerita seperti novel karya Titie Said ini, kesusastraan tidaklah lagi menjadi penyamaran usang sebuah praktik kanibalisme intelektual. Karena kepentingan yang ada adalah untuk sosialisasi pencegahan bencana diri manusia, kualitas hidup manusia.

Mari bercerita tentang keberpihakan kita kepada kemanusiaan, dan berusaha untuk mampu menjawab pertanyaan, bagaiamana karya fiksi mendapat tempat dalam perjuangan umat manusia?

Pernah di muat Sinar Harapan

David Krisna Alka

Salah seorang pembicara bedah novel “Deana Pada Suatu Ketika” di UIN Jakarta bersama Parni Hadi, Siti Musdah Mulya, Titi Said

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here