SHARE

Harian Terbit, 2006

Ketika pementasan puisi terpinggirkan oleh maraknya pertunjukkan popular di televisi yang menggelinjang akhir-akhir ini. Irman Syah melakukan pelisanan puisi-puisinya dengan sederhana tanpa ruah.

Cukup dengan kursi dan meja bundar sebagai properti yang menunggu letih ingin diapresisasi. Irman Syah asyik dengan mengeluarkan bunyi bansi, kemudian berkata-kata.

Dengan menggunakan sepasang sepatu beda warna. Yang kiri merah dan yang kanan putih, sebuah kesan eksentrik yang sudah biasa, Irman Syah mencoba memaknai negeri melaui jaringan penandaan dengan penempatan atau penerapan antara penanda (signifer) dan petanda (signified)-merah dan putih sebagai simbol bendera negara. Sedangkan kain batik dan bansi sebagai pencitraan terhadap sebuah tradisi budaya.

Irman Syah memiliki gaya tersendiri dalam melisankan puisi-puisinya. Menimbulkan makna ganda antara menguatkan eksplorasi tradisi atau kritik terhadap negeri.

Dengan bahasa lain, pertunjukkan yang bertema Negeri Sealun Dendang itu dihadapkan pada bahasa dan idiom lain dari yang pernah dilakukan penyair ketika membaca puisi-puisi mereka sendiri.

Irman Syah tengah melakukan pencarian identitas yang lebih kreatif seperti para penyair pendahulunya yang telah memiliki dayat tarik tersendiri ketika membacakan puisi, seperti Rendra dan Sutardji membacakan puisi.

Sebagai penyair, Irman Syah termasuk baik dalam mengeksplorasi panggung saat kejenuhan sempat menghampiri penonton. Membangun komunikasi pertunjukkan merupakan hal yang jarang dilakukan para penyair ketika membacakan puisi-puisinya.

Kebanyakan para penyair kurang memiliki “gaya” dalam membacakan puisi. Mereka cenderung mengandalkan kekuatan makna kata pada puisi, tapi bukan pada ekplorasi puisi dalam bentuk yang lebih menarik, seperti yang dilakukan Irman Syah. Pertunjukkannya unik, dibantu dengan alat musik tiup bansi dan dendang tanpa kata (permainan bunyi fonem yang berirama etnik khas Minang). Penggabungan bunyi alunan bansi dan dendang serta pengucapan puisi sebagai satu kesatuan memang merupakan kemampuan yang jarang dimiliki oleh penyair lain.

Irman Syah membacakan puisi andalannya, Sunyi Kirim Surat Padaku.

Kalau ingin menyelami sepi, masuklah Kejantungku!

Sebuah panorama tak terduga

Bangku panjang diri, di atasnya lumut

Bercambur embun yang kemaren

Membeku dalam dingin

Kereta takkan pernah datang, walau

ditunggu dalam sejuta musim

Alunan bansi terdengar menyentuh, menembus keramaian arus kendaraan di depan Wapres Bulungan malam itu. Detakan hati ini turut bergetar, teringat kota tempat belajar tentang kehidupan dan kesusastraan, INS Kayutanam, yang saat itu di bawah pimpinan A.A Navis. Pengarang cerpen Robohnya Surau Kami itu bisa dibilang ‘motor’ bagi beberapa penyair dan peminat sastra di Kayutanam, Sumatera Barat. Di situ, tempat Irman Syah pernah mengajarkan kepadaku tentang apa itu puisi dan berpesan untuk sering-seringlah menulis diary.

Malam pertunjukkan puisi itu, semua tersapa dalam alunan dendang:

ke-ta-pang…ke-ti-pung…pung…pang…pung…pakh..pakh…pukh…pukh!

Irman Syah melanjutkan membaca puisinya:

Kalau ingin menegur malam, ucapkan

Apa saja di sana! Kau akan mendengar

Musik kesunyian yang panjang

Diiringi requiem yang amat mengerikan

Salami saja apa yang kau inginkan dan

Nikmatilah! Betapa hidup sendiri itu

Sangat tak mengenakkan

Keheningan yang terasa bertambah saat alunan bansi berirama khas minang mengingatkan akan kampung halaman. Setidaknya, apa yang telah dilakukan Irman Syah bukanlah pementasan  spontanitas yang cuma mengandalkan energi kata dan ekspresi wajah. Bantuan suara musik, baik dengan bansi maupun alunan suara mulut (baca:dendang) merupakan kekuatan tersendiri yang dimilikinya.  Puisi yang berjudul, Sunyi Kirim Surat Padaku, karya Irman Syah yang pernah menang lomba cipta puisi Sanggar Kopi di Bali, enam tahun yang lalu.

Gaya Irman Syah melisankan puisi-puisinya itu apakah dapat disebut sebagai musikalisasi puisi atau bukan, tentunya akan paradoks jika ditilik lebih jauh. Alat musik yang digunakan tidak mengandung kesatuan sebagai pendukung sebuah bentuk musikalisasi puisi. Sedangkan alunan dendang merupakan sebuah kreatifitas yang butuh keberanian bagi penyair untuk mendukung kenikmatan sebuah pementasan pelisanan puisi seperti yang telah dilakukan oleh Irman Syah.

Di sisi lain, apabila pementasan yang bertema Negeri Sealun Dendang merupakan salah satu bagian dari pementasan yang mengusung perlawanan terhadap hiburan yang komersial, tentunya patut untuk didukung. Perlawanan itu tentu berkaitan dengan banyaknya penyair yang tak memiliki modal uang yang cukup untuk menerbitkan antologi puisinya sendiri. Atau, mengadakan sebuah pertunjukkan puisi yang harus melalui saringan lewat tim penguji, berlomba unjuk gigi, lalu tereliminasi, kemudian nyanyian sunyi mengarungi.

Sebagai bentuk pencarian sebuah pertunjukan puisi yang mendambakan peminat layaknya Indonesian Idol, Irman Syah tentunya belum mampu untuk menargetkan seperti itu dan butuh banyak makan tenaga, waktu, apalagi modal.

Tetapi, jika pertunjukkan tersebut merupakan upaya untuk mengembangkan pementasan puisi yang lebih kreatif, menyentuh dan mencerahkan, patut dihargai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here