SHARE
Penyimpangan moral korupsi, kolusi, nepotisme tak hanya dilakukan oleh pejabat negara. Kaum miskin pun ikut kebablasan moralnya. Saksikanlah, berita-berita kriminal bertubi menyerang kehidupan keseharian. Menurut Budi Hardiman (2003), keseharian yang banal telah menjadi kelaziman. 

“Ke manakah Allah?“ tanya Nietszhe. “Kita semua membunuhnya-kalian dan aku. Kita semua pembunuh.”Allah menurut Nietszhe itu dapat ditafsirkan sebagai Yang Maha Bermoral.

Artinya, kita semua telah membunuh Yang Maha Bermoral itu, sehingga Si Kaya kian menggila keserakahannya, tak mau memberdayakan  Si Miskin. Akibat ketimpangan ekonomi begitu parah, kaum mustadh’afin terjebak dalam kondisi material yang eksploitatif,  mereka pun putus asa, kemana jalan moral mesti menuju? 

Selain itu, kaum miskin di negeri ini terperosok dalam efek negatif budaya kapitalisme yang dapat ‘membunuh’ mereka secara perlahan. Demi dapat memiliki membeli televisi dan telepon genggam, misalnya, mereka rela menelantarkan dan mengabaikan anak-anak mereka. Bahkan, malah menganjurkan anak-anaknya supaya mengemis di jalanan!
 
Kaum  Miskin Baru 
Dipergulatan kehidupan kota, terdapat cukup banyak kaum kelas menengah. Perekonomian mereka turut terancam. Godaaan gaya hidup mewah menjalar dari rayuan media; televisi yang menyajikan mimpi, reklame-reklame kota menawarkan ‘sesaji’ bahwa hidup itu selalu indah, dan pusat perbelanjaan megah berdiri pongah!
 
Selain itu, budaya kredit melilit. Anjuran untuk menggunakan kartu kredit secara mudah didapatkan. Tidak menggunakan kartu kredit (credit card) gak keren, akhirnya ketika jatuh tempo pembayaran, mereka terjerat hutang. Terjebaknya kaum miskin dari hedonisme tradisional menuju bentuk hedonisme modern, ditandai adanya sensasi yang menyenangkan indra dalam membangun suasana kesenangan sendiri. Perilaku konsumtif dalam era hedonisme modern ditandai oleh keinginan untuk mewujudkan kesenangan-kesenangan yang diciptakan atau dinikmati melalui imajinasi, dalam kenyataan keinginan yang mengakibatkan konsumsi tiada hentinya terhadap sesuatu yang baru.
 
Selain itu, makanan cepat saji yang mahal mematahkan ekonomi kaum kelas menengah ke bawah itu. Gaya hidup konsumtif mereka menggila. Gengsi menjadi utama. Akhirnya mereka tak cekatan, kurang lincah, dan tak tahu mana prioritas hidup yang mesti diutamakan.
 
Berbagai citra penggerak imajinasi semakin membuat kaum miskin di negeri ini terbuai dalam bentuk-bentuk kesenangan modern.  Lamunan-lamunan kesenangan itu dapat merusak kualitas hidup. Hasrat mereka menggejolak mendambakan sesuatu di luar batas kemampuan. Perioritas hidup menuju kesenangan sesaat semata. Dan, menjalarnya budaya konsumtif berakibat mental masyarakat kelas bawah kian lumpuh dan tertinggal. Akibatnya, selalu yang menjadi korban adalah orang-orang miskin. Dan akhirnya, ke mana arah negeri ini menuju kian tak pasti.
 
Parahnya lagi, pemerintah menetapkan impor beras yang akan semakin menindas para petani. Bayangkan saja, saat ini 70 persen masyarakat miskin Indonesia adalah petani, terutama buruh tani, angka pengangguran bertambah menyesakkan, dan ditambah lagi dengan konflik elit penegak hukum. Yang semua masalah itu seolah menjustifikasi dan memperburuk kondisi di Indonesia.

Dikotomi antara si kaya dan si miskin tampak secara nyata. Antara kelompok masyarakat kelas atas dan kelas bawah kian terjal jurangnya, di tempat yang bersih, rapi, dan anggun, apartemen dan perumahan elit tersusun elok menghias kota. Di sisi lain, di tempat kumuh, di pinggiran kali atau selokan, rumah atau sebut saja gubuk liar kota, tatanya buruk menghias kota.

Ancaman
Sesaknya penderitaan ekonomi yang mendera mereka, mengambil jalan pintas adalah cara yang mudah. Mereka memberontak. Tindakan tak bermoral pun menjadi cara mudah untuk mengatasi kesulitan hidup. Bertindak demi untuk menaati hukum moral pun dilanggar, bahkan secara brutal.
 
Kode moral secara semantik adalah suatu bagian dunia yang diinterpretasikan dengan penuh arti. Bahkan sebuah kode moral adalah bagian dari sebuah idelologi. “Ideologi” kaum miskin yang tertuang dalam tuntutan moral yang asasi adalah persamaan hak (equality). Apakah pemerintahan negeri ini telah lupa dengan etika (khususnya jawa) yang mengutamakan keselarasan? Keselarasan dengan alam dan terutama dengan sesama warga masyarakat merupakan nilai yang amat tinggi.
 
Menurut Franz Magnis Suseno (2005) dalam proses menjadi dewasa anak jawa belajar bahwa kelakuan yang baik adalah selaras dengan lingkungannya, dan sikap-sikap tidak selaras pantas dicela. Berarti tanda-tanda kekuasaan dalam pandangan jawa adalah kesejahteraan, perdamaian dan rasa puas dalam masyarakat.
 
Kesejahteraan adalah kata kunci penyelesaian segala macam persoalan di negeri ini. Selain kesejahteraan, kedaulatan adalah prinsip untuk menjadi bangsa yang mandiri, dengan secepatnya mengembalikan utang luar negeri. Tak perlu lagi intervensi pihak asing dalam menentukan kebijakan ekonomi negara ini.
 
Seperti pungguk merindukan bulan. Mendambakan kehidupan rakyat yang adil makmur dan mencerdaskan kehidupan bangsa tak kunjung tiba. Orang-orang miskin di negeri ini bukan ingin sekadar bermimpi negara sejahtera, tapi realisasi mimpi itu mesti segera dilaksanakan.
 
Rakyat miskin hanya diberikan mimpi-mimpi yang tak pasti. Sejatinya, pengalaman pahit yang telah cukup lama menimpa negeri ini hendaknya mampu menggugah hati nurani seluruh penyelenggara negara dan wakil rakyat untuk mengembalikan kedaulatan bangsa yang sesungguhnya.
 
Negara yang bermoral atau negara yang budiman menurut Darmawan Triwibowo dan Sugeng Bahagijo dalam Mimpi Negara Kesejahteraan (2006), adalah suatu negara yang  kuat namun mencurahkan kuasanya untuk memenuhi dan melindungi hak-hak warganya, negara yang mampu memenuhi kebutuhan dasar sosial-politik-ekonomi penduduknya, dari perkotaan hingga pelosok pedesaan.
 
Masalah-masalah moral yang lebih fundamental timbul dalam banyak wilayah dengan bukti-bukti empiris dan pengalaman praktis. Memang di sinilah, di tengah-tengah realitas kehidupan manusia yang konkret dalam masyarakat Indonesia, terbentuknya masyarakat sejahtera telah lama ditekankan.
 
Dalam kerangka ini, ditengah cepatnya laju industrialisasi, globalisasi, dan di dalam dunia yang tak kenal batas. Perihal yang muncul kemudian bukan lagi si besar memakan kecil, tetapi terutama si cepat memangsa si lambat, menyebabkan proses marjinalisasi terus melaju.
 
Mekanisme neoliberal kian memasung ekonomi masyarakat miskin di negeri ini. Yang maju hanya sejumlah kecil orang yang memiliki privilege. Sementara masyarakat terjerumus dalam perubahan fundamental sosial, terutama menyangkut gaya hidup yang luar biasa konsumtif.
 
Lebih dari itu, tata ekonomi di negara ini telah memarjinalkan kaum kelas menengah ke bawah. Ngerinya, bila semakin melebarnya jarak ekonomi antara si kaya dan si miskin akan tercipta kasta-kasta dalam masyarakat di perkotaan maupun di wilayah pedalaman. Akibatnya, seperti dalam tayangan di film dan sinetron,  anak si miskin yang perutnya buncit menghapus ingus di hidung, tercenung melihat anak si kaya menjilati ice-cream dengan nikmatnya.
Seputar Indonesia, 23 November 2007
David Krisna Alka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here