SHARE

Memburu diskusi Cak Nur bukan hanya “wisata” intelektual maupun “wisata” spiritual” semata yang didapat. Tetapi juga wisata dalam arti sesungguhnya. Wisata kota. Mengunjungi gedung indah dan hotel mewah yang dulu membuat saya terperangah. Membuat sorotan mata ini tak cuma fokus pada pembicaraan Cak Nur, tapi juga melirik sudut-sudut indah di ruang mewah. Mengecap hidangan enak yang tersaji rapi. Bikin rasa senang di hati.

Satu penyesalan saya, tak memiliki dokumentasi video pribadi yang merekam jejak petualanga memburu Cak Nur. Tetapi, tak saya sesali seumur hidup adalah dapat melihat dekat sosok Cak Nur, dan merasakan genggaman tangannya yang kokoh berjuang menghargai titik-titik perbedaan.

Membayangkan kembali gaya bicara Cak Nur yang khas, kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya runut, akurasinya pasti, isinya luas, dan gerakan mulutnya yang unik dan pernah ditiru oleh beberapa teman diskusi ketika itu. Ketika diskusi di kampus, begitu bangganya saya mengutip pemikiran Cak Nur, baik dari catatan kecil hasil seminar maupun dari buku-bukunya. Lucunya, terkadang saya tak mengerti arti istilah baru yang terdapat pada tulisan-tulisan Cak Nur. Membuat saya gagap menjawab pertanyaan seorang teman yang menanyakan arti istilah kata yang saya sebutkan. Dari situ saya mulai mengumpulkan kata-kata baru yang ditemui dan mencari artinya.

Seiring perjalanan waktu. Setelah enam tahun reformasi yang tak pasti. Setahun sebelum pemilihan umum yang kita banggakan sebagai pemilu paling demokratis, terbaca di surat kabar dan terdengar di televisi. Melalui konvensi Partai Gokar, Cak Nur ingin maju menjadi calon presiden.

Saat itu, dengan bangga, opini pertama saya di muat pada rubrik prokon aktivis koran Indo Pos/Jawa Pos dengan judul Bingung Memilih Calon Presiden. Dalam opini itu saya menyebutkan bahwa nama-nama yang terdengar akan dicalonkan Golkar sebagai calon presiden, salah satunya adalah Cak Nur, selain Akbar Tanjung Jusuf Kalla, Susilo Bambang Yudhoyono, Agum Gumelar, Surya Paloh, Sultan Hamengkobuwono, Prabowo, dan Wiranto.

Dalam opini itu saya menulis singkat trade record nama-nama yang terdengar akan maju menjadi calon presiden. Saya sedikit menganalisa trade record Cak Nur dengan menjelaskan bahwa dalam dunia akademis profilnya dapat diterima mahasiswa dan kalangan kelas menengah. Akan tetapi, jika Cak Nur konsisten dengan pernyataannya “Islam Yes, Partai Islam No”, kecil kemungkinan Partai Islam akan mendukung Cak Nur pada Pemilu 2004 lalu.

Ternyata laju kehidupan politik di negeri ini membuat Cak Nur bertahan pada posisi dilematis antara visi dan gizi. Akhirnya visi kebangsaan Cak Nur hanya menjadi referensi tulisan dan lembaran kutipan tulisan saja, belum membumi diterapkan oleh pemimpin di negeri ini.

Dakwah intelektual Cak Nur memang belum menyentuh kaum urban pinggiran dan kaum marginal perkampungan. Namun kini, saatnya Cak Nur-Cak Nur muda menyebarkan  pemikirannya di perkampungan kumuh, pedesaan, dan daerah marginal lainya yang menurut saya rawan akan konflik akibat perbedaan yang menuai kekerasan.

Pemikiran Cak Nur tak patut dilupakan. Jasanya tak bisa dikuburkan. Tapi terkadang kita lupa. Barangkali juga saya. Menganggap orang-orang besar hanya cukup diingat namanya saja, tapi bukan kerja, jasa, dan gagasannya. Kadang saya, mungkin kita, melupakan tokoh dan organisasi yang bergerak dalam lapangan pengetahuan, yang berusaha meletakkan dasar yang kuat bagi masa depan bangsa.

Meminjam istilah Taufik Abdullah, kita pun segera ingat nama orang yang sibuk menyalakan api dan kita pun tak merasa apa-apa ketika dengan mudahnya kita melupakan orang yang mengumpulkan kayu-kayu kering yang akan memungkinkan api itu menyala.

Hidup tak selalu berada di tepian bila tanpa menampakkan pemikiran yang brilian. Lewat pemikiran dan perjuangannya, Cak Nur melawan penyempitan cara berpikir, meluaskan pemahaman keagamaan yang eksklusif, dan melawan dengan caranya, terhadap orang-orang yang mengekang kemerdekaan berpendapat.

Segala bentuk penindasan berpikir dan berpendapat dari manapun datangnya harus dilawan. Ketika kreatifitas dibungkam dan kebebasan berpikir disumbat, lantas apa arti kehidupan jika tak membebaskan dan menghargai perbedaan?

Tentunya, begitu banyak gudang-gudang cerita dari para tokoh dan orang-orang dekat tentang Cak Nur. Termasuk orang-orang yang membisikkan ayat-ayat kebencian mengenai apa yang mereka anggap sebagai ajaran sesat ala Cak Nur.

Suara-suara kebencian itu mengekang keterbukaan dan kebebasan berpikir. Namun, kita mesti tegak berdiri di antara pusaran waktu yang menunggu gaduh akan gejolak bangkitnya perlawanan terhadap pengekangan kebebasan berpikir dan berpendapat. Akhirnya, terbesit tanya dihati, “apakah benar saya telah memburu Cak Nur atau malah saya yang diburu oleh Cak Nur?”

David Krisna Alka

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Esai Forum Muda Paramadina  tentang “Cak Nur Di Mata Kaum Muda” (2008)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here