SHARE

Dalam melihat perkembangan kesusastraan Indonesia, asas nasionalitas atau kebangsaan penting untuk ditekankan. Mulanya nasionalisme itu dipahami sebagai manifestasi patriotisme radikal melawan kolonialisme dan imperialisme, hanya sekadar mengusir penjajah dari Tanah Air, perasaan senasib dan sepenanggungan di bawah penindasan kolonialisme dan imperialisme.

Pada waktu itu, nasionalisme adalah kebangkitan untuk memerdekakan diri dari penjajah. Setelah itu, perjuangan beralih pada wilayah menata model kebangsaan dan mengatur penyelenggaraan negara yang akan dijalani.

Kesadaran yang timbul akhir-akhir ini adalah kesadaran nasionalisme yang semu. Pemahaman terhadap nasionalisme hanya sebatas cara mencapai tujuan dan tidak mengindahkan nilai-nilai yang dihayati sebagai kesadaran. Sebagai sebuah konsep, nasionalisme Indonesia rupa-rupanya tidaklah ditegakkan dalam satu garis lurus yang sederhana.

Proses kelahiran dan perkembangannya menunjukkan hal yang berkebalikan: berliku-liku dan kompleks. Sebagai sebuah teks yang terbuka atau interpretatif, nasionalisme mengalami pergeseran orientasi akibat kepentingan para pelaku atau kepentingan golongannya.

Pembacaan nasionalisme

Ben Anderson dalam karyanya yang sudah tak asing bagi sastrwaan kita, Imagined Communities, Reflections on The Origin and Spread of Nationalism, menjelaskan bahwa nasionalisme itu harus menyentuh secara keseluruhan, orang per orang dan golongan dalam masyarakat yang majemuk. Nasionalisme adalah objektif dan netral, dapat diterapkan dalam berbagai konteks, bebas nilai, dan bebas kepentingan dalam masyarakat yang plural. Nah, bagaimanakah pembacaan para penyair terhadap konsep nasionalisme itu?

Pada dasarnya, nasionalisme pada kalangan penyair tidak hanya sebatas lewat karya, namun juga turut berkecimpung dalam pergolakan perjuangan kebangsaaan. Merujuk kepada pemahaman nasionalisme yang klasik, yakni perjuangan kebangsaan untuk membebaskan negeri dari penjajah.

Muhammad Yamin, Rustam Effendi, Asrul Sani, Rivai Apin, Amir Hamzah, dan penyair sebelum dan sejak zaman kemerdekaan, telah melakukan perjuangan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga berperan aktif dalam rangka persiapan kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah konsep nasionalisme mengalami keburaman, bukan berarti para penyair sekarang telah meniscayakan rasa kebangsaan telah memudar sedemikian rupa. Kontekstualisasi pembacaan terhadap konsep nasionalisme perlahan mulai dijajaki oleh penyair kita dengan menyajikan karya puisi yang mengkritik maupun membangkit mengenai fenomena Tanah Air yang penuh dengan kecam dan kecamuk.

Untuk merujuk pada pembacaan nasionalisme seorang sastrawan, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) mengungkapkan bahwa, membaca kembali nasionalisme berarti harus pembacaan yang relevan dengan konteks zaman. Nasionalisme yang baru, berarti merebut tempat, duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa yang paling maju di dunia sekarang. Berjuang bersama-sama dengan bangsa lain menciptakan dunia baru yang lebih harmonis. Sebab dunia dan umat manusia lambat alun menjadi satu dalam kemajuan ilmu dan teknologi, dan terutama sekali dalam kecepatan lalu lintas dan komunikasi.

Nah, jika penekanan dalam membaca nasionalisme sesuai dengan yang dimaksud oleh STA tersebut, maka penyair tidak harus menuangkan gagasan kebangsaan mereka dalam bentuk yang sempit, berputar pada dilema pengalaman lahir dan batin pada masa perjuangan kemerdekaan, seperti tiada terjadi seratus tahun sekali, cukup untuk menjadi bahan berpuluh roman, beragam sandiwara, dan beratus sajak.

Dalam usaha menemukan identitas nasional, ungkapan STA tersebut tidak harus selalu dituruti. Bagi penyair yang intensif dalam mengelakkan kesenian daerah mestinya tetap konsisten untuk mengembangkan khazanah daerah mereka masing-masing. Pergulatan penyair dalam karya-karya mereka yang mengangkat dan mengembangkan salah satu daerah bukanlah suatu hal yang mudah. Toh kita tidak melulu mesti menerima berbagai pengaruh dan bentuk pencucapan seni dari budaya Barat.

Jiwa sang penyair

Banyak kemungkinan bagi para penyair untuk menyelami rasa kebangsaan dan juga banyak kesukarannya. Dalam zaman pancaroba ini, para penyair berusaha untuk mencari keseimbangan di dalam jiwanya. Bukan keseimbangan yang buta dan tuli, yang mengunci dirinya dalam keheningan dan kesendirian. Keadaan negeri yang sudah sesibuk, carut-marut, dan sekacau ini, para penyair kini hendaknya bersyukur dapat menyaksikan dan mengalami semua itu. Akan tetapi bukan sebagai penonton, namun sebagai orang yang ikut serta bermain dengan hati yang berdebar-debar dan mata bersinar-sinar.

Bangsa Yunani menyatakan bahwa guna seni itu dengan perkataan khatarsis, yaitu pembersihan. Seni mengangkat manusia dari kehidupan sekelilingnya ke suasana yang mulia dan suci untuk membersihkan jiwa. Menyucikan dan memuliakan jiwa manusia itu hanya mungkin dilakukan oleh seni apabila ia menjadi penjelmaan kesucian dan kemuliaan jiwa.

Para penyair akan berharga atau tidak, mulia atau hina, semata-mata bergantung kepada sifat, watak penyair sendiri. Seni kata yang dituangkan penyair tidak melulu asyik bermain dengan dirinya sendiri, tetapi mesti melihat kenyataan bangsa. Menurut Soedjatmoko (1991), kita perlu belajar dan berkaca pada sejarah. Nasionalisme tanpa sejarah itu namanya emosi bodoh. Nasionalisme harus disinari oleh kesadaran, pengertian, pengetahuan, dan kesadaran sejarah.

Kesadaran nasionalisme seperti itu menjadikan posisi penyair cukup penting dalam menumbuhkan jiwa kebangsaan yang tidak melulu patriotis. Akan tetapi, sebagai penembus putih tulang dan sum-sum kata, dan menjadikan alat penyair untuk kepentingannya yang puitik, penyair berusaha untuk memberikan pencerahan dengan kemurnian jiwanya. ***

Media Indonesia, 18 Mei 2004

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here