SHARE

Jakarta adalah salah satu kota yang menjadi ruang representasi identitas antara orang kaya dan miskin.

Lauren Bain mengutip Mike Davis dalam Space and Symbols (1990) merisaukan perencanaan pembangunan kota yang menggunakan strategi spasial untuk memisahkan, memencilkan, dan mengasingkan ”yang lain”.

Posisi Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi pusat perdagangan, hiburan, kemewahan, dan pemiskinan. Ironisnya, ketamakan dan penyingkiran terhadap kaum miskin justru terjadi di Jakarta. Kota Jakarta menebar aroma gaya hidup yang tak kenal kaya- miskin. Namun, dikotomi kaya-miskin justru kian melebar.

Ramadhan di Jakarta

Bagi kaum miskin kota, Ramadhan merupakan bulan rebutan dana. Di Jakarta, bulan puasa diramaikan pengemis dan banyak ”rumah gerobak”, menunggu sapaan sahur dari mereka yang peduli dan kaya. Ketika buka puasa, mereka ke masjid melepas dahaga dan lapar.

Fenomena lain adalah pekerja yang gajinya tak seberapa. Bagi mereka, bulan Ramadhan adalah bulan menghemat karena tak ada pengeluaran untuk makan  siang dan hampir di tiap masjid ditemukan jatah buka puasa. Bagi kaum pekerja, mereka menggunakan angkutan umum yang penuh sesak, gerah, dan melawan dahaga di tengah kemacetan.

Namun, bagi pejabat dan orang kaya, Ramadhan sepertinya tiada rasa. Naik mobil, berbuka di restoran atau hotel bersama kolega dan keluarga. Bagi sebagian pejabat negara, buka puasa digelar di rumah dinas milik negara.

Bulan Ramadhan menjadi ruang refleksi dan kritik sosial di tengah masih banyaknya umat yang papa, kaum muda yang menganggur, dan anak-anak yang telantar. Di saat suara juru dakwah terdengar di mana-mana selama Ramadhan, seharusnya tak ada lagi orang lapar yang tak diperhatikan dan terabaikan. Sebab, bulan Ramadhan menjadi manifestasi internalisasi nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan menjadi pengejawantahan ajaran Islam sejati, yakni solidaritas sosial.

Kelompok duafa

Di antara keserakahan di kota seperti Jakarta, bulan Ramadhan seharusnya tidak menjadi ruang hampa bagi kelompok duafa. Ramadhan mestinya menjadi bulan pemaknaan sosial ayat-ayat Tuhan dengan realitas. Bulan Ramadhan menjadi pemotretan atas kenyataan umat yang masih banyak menderita kemiskinan.

Sesungguhnya, bulan Ramadhan mencerminkan persamaan. Siapa pun yang beriman, kaya atau miskin, harus berpuasa. Memang, tampak tak adil jika kaum miskin harus berpuasa karena tiap hari mereka sering berpuasa. Selain itu, dalam berpuasa, ada perbedaan asupan antara orang kaya dan miskin.

Bulan Ramadhan juga mengingatkan bahwa keadilan harus ditegakkan. Bagi yang mampu melaksanakan dianjurkan untuk berpuasa. Bagi yang berhalangan ada dispensasi dan menggantinya setelah Ramadhan berakhir. Esensi tujuan puasa itu pengendalian diri. Orang yang berpuasa menggambarkan keadaan sebagai orang yang meneladani Tuhan yang mencapai tingkat takwa. Orang itu teguh dalam keyakinan tetapi bijaksana, tekun dalam menuntut ilmu, kian berilmu kian merendah, semakin berkuasa bertambah bijaksana.

Orang yang berpuasa senantiasa berbagi kepada yang miskin, tidak boros meski kaya, murah hati dan ringan tangan, tak menghina, tak mengejek, tak menghabiskan waktu dalam permainan. Dan, saat menjalani roda kehidupan tidak membawa fitnah serta terpelihara identitasnya sehingga tidak menuntut yang bukan haknya dan tak menahan hak orang lain.

Puasa bukan hanya perintah agama yang bersifat personal, tetapi amal yang bersifat spiritual dan sosial. Namun, sebagai ibadah, puasa pada bulan Ramadhan tak hanya terkait hubungan personal seorang hamba dengan Tuhan, tetapi juga keterikatan dengan manusia lain. Tugas manusia adalah melaksanakan tindakan iman (act of faith), yaitu menciptakan keadilan yang terkait sosial kemanusiaan.

Moeslim Abdurrahman dalam Suara Tuhan Suara Pemerdekaan (2009) mengatakan, makna Islam yang paling murni bukan terletak pada rumusan teologisnya, tetapi dalam pergulatan hidup sehari-hari umatnya untuk menegakkan keadilan. Islam adalah ajaran roh kemanusiaan sejati yang menuntun perubahan, terutama dalam pemerdekaan terhadap kaum papa.

Kita semua berharap, semoga bulan Ramadhan menjadi tindakan iman dalam mengurangi ketimpangan sosial, terutama di Kota Jakarta, sehingga kelak proses alienasi yang menyingkirkan kaum miskin secara sosial dan ekonomi tak lagi terjadi. Tak ada guna kita membanggakan penggunaan simbol-simbol kesalehan bila masih banyak umat yang miskin dan lapar.

David Krisna Alka

Harian Kompas, 21 Agustus 2009
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/21/04455132/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here