SHARE
Rakyat Indonesia mesti mempertanyakan segala sesuatu dengan jujur tentang agenda pembaharuan dan gerakan dua organisasi kemasyarakatan terbesar di negeri ini, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.Jangan sampai, pembaharuan Muhammadiyah dan gerakan akar rumput NU menjadi mitos dalam perannya membangun karakter bangsa republik ini.

“Peradaban mulai merosot apabila kepemimpinannya tidak lagi memiliki kreatifitas, rakyat terpecah menjadi kelas, klik partai-partai, pemimpin hanya merupakan epigon. Ide yang didengungkan hanya kedok bagi kepetingan pribadi dan golongan. Solidaritas baru harus dibentuk. Sebagai manusia organisasi, kita perlu mengalami transformasi,” kata peneliti¬† Maarif Institute, David Krisna Alka.

Hal itu dikatakan intelektual muda Muhammadiyah tersebut dalam diskusi dan peluncuran buku NUhammadiyah Bicara Nasionalisme di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Bandung, Selasa malam, (16/8). Hadir juga sebagai pembicara penyair Acep Zamzam Noor, budayawan Ahmad Syubbanuddin Alwy, dan wartawan Ahda Imran.

Acep Zamzam Noor, putra almarhum mantan Rois Am PBNU KH Ilyas Ruchiat, mengutarakan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa. Karena dia melihat, dari hari ke hari, tahun ke tahun, negeri ini berjalan tak menentu. “(Karena itu) jangan sampai ormas NU dan Muhammadiyah sebagai kekuatan rakyat berjalan juga tak menentu,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Ahmad Syubbanuddin Alwy mengungkapkan elite republik ini belum bergeser dari metode berpikir purba, yang memperlakukan Indonesia menjadikan tempurung parpol. Indonesia, dalam pandangannya, seolah tidak berubah sebagai fiksi.

“Disinilah organisasi NU dan Muhammadiyah yang berdiri lebih dulu dari Indonesia mendudukkan diri di hadapan rakyat dengan tegar, tegas, lugas dan tidak kompromi dengan perampok-perampok negara ini,” ungkapnya.[zul]

Rakyat Merdeka, Rabu, 17 Agustus 2011 
Laporan: Zul Hidayat Siregar

http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=36687

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here