SHARE

Kolom Detik, Rabu, 21/09/2011

Tubuh partai politik seolah hilang ruang keberadabannya. Terdengar nada sumbang tentang kader-kader partai politik bertransaksi praktik rente. Ironis, kuman pragmatisme sudah melekat dalam tubuh beberapa politisi muda di negeri ini.

Ruang politik di negeri ini terinfeksi virus pragmatis yang akut. Sangat mungkin, sebuah partai politik yang ideal malah diabaikan oleh para pemilih. Sebab lebih banyak dinilai dari seberapa banyak uang dikucurkan, seberapa besar anggaran transportasi peserta kampanye, dan seberapa besar harga satu suara dan seterusnya. Jadinya, kaum muda dihadapkan antara perjuangan politik untuk membela keadilan dan kebenaran atau perjuangan meraih keuangan dan kekuasaan.

Memang, tak ada jaminan bahwa sebuah partai politik dengan sistem pengkaderan yang bagus, program partai yang populis, pendidikan politik yang mantap akan berhasil memenangkan pemilihan umum. Namanya juga ruang politik, sebuah ruang kemungkinan dan ketakpastian.

Pertanyaannya, apakah benar pandangan banyak orang yang mengatakan bahwa politik itu memang kotor? Mereka melihat etika politik tampak kropos dan bebal, terutama dalam tubuh partai politik. Ekspresi politik yang dijamin demokrasi dijadikan legitimasi terhadap political behaviour yang kotor.

Tersandera
Kerja politik adalah berjuang untuk memberi manfaat kepada rakyat menjadi lebih beradab. Kini, semangat koruptif tampak menguasai denyut hati para politisi, terutama politisi muda. Tentu, akhirnya tanggungjawab kerakyatan menjadi terpisah dari kepentingan rakyat.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin, salah satu diantara sekian tokoh muda dan kader partai politik yang terjerat kasus pengkhianatan amanat rakyat. Tampak, walaupun akhirnya tertangkap, Nazaruddin tidak memiliki keberanian menghadapi segala masalah yang menimpanya. Ia seolah tak seperti layaknya anak muda yang berani, gagah, dan kuat menghadapi segala masalah.

Sejatinya, generasi penerus republik tak turut ‘mabuk’ dalam ekstase permainan politik yang bebal. Jika politik bebal yang dimainkan, membuktikan kebenaran pernyataan Bung Hatta, “Abad besar telah datang, tapi kita menemukan generasi yang kerdil!”.

Di luar arena politik, terlihat individualitas kaum muda memisahkan diri dari urusan pribadi untuk terlibat dalam perkara politik. Bias alamiah mereka menyerahkan perkara publik hanya kepada negara mengakibatkan mereka kurang berminat pada perkara publik dan politik, bahkan tak punya waktu untuk mengikutinya.

Alexis De Tocqueville (2005:381) menilai bahwa kehidupan pribadi kelompok kaum muda itu masuk dalam periode demokratis yang begitu sibuk, begitu bergairah, begitu penuh harapan dan kerja, sehingga nyaris tak tersisa energi ataupun waktu senggang untuk kehidupan publik, apalagi politik. Di sisi lain, kaum muda yang skeptis beranggapan bahwa elite politik mengalami kesadaran yang tak otentik dalam mengatasi persoalan kesejahteraan rakyat. Elite politik seperti pembujuk (persuader) yang mementingkan diri sendiri dan golongannya.

Taufik Abdullah (2000) melihat ketakaburan para elite (the hubris of the elite) di Indonesia hanyalah berputar sekitar para elite politik, sedangkan masyarakat luas berada di luar proses politik. Selain itu, para pemimpin rupanya sudah tak punya tempat lagi dalam percaturan politik di tanah air kita. Elite politik seakan beranggapan bahwa dunia ini telah berada di tangan mereka.

Politisi muda semestinya menjaga relasi etis antara partai politik dan rakyat. Seperti kata Mochtar Lubis (1974:15) bahwa moralitas kaum muda harus tak seperti orang yang pandai mencuri dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan menulis ‘jangan engkau mencuri’. Sehingga, motif yang melatari belakangi kaum muda untuk terjun dalam dunia politik bukan semangat mengiba dan bukan politik manja sehingga menjadi ‘parasit dan penculik’ terhadap partai politik yang diikutinya.

David Krisna Alka 

Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here