SHARE

Kesadaran politik perempuan semestinya sinergi dengan gerakan sosial dalam berjuang membela nasib orang-orang yang tertindas akibat didera himpitan ekonomi negeri yang penuh ketidakpastian.

Lihatlah di republik ini: 5,3 juta perempuan di atas usia 15 tahun masih buta aksara karena sulitnya mengakses pendidikan. Jutaan perempuan pun rentan dengan penyakit yang identik dengan kemiskinan. Kasus-kasus semacam TBC, gizi buruk, malaria, disentri dan kematian ibu saat melahirkan masih sangat tinggi. Contoh teladan politisi perempuan di negeri ini sangat diperlukan.

Dalam politik memang tidak mengenal jenis kelamin. Namun, wacana politik Indonesia melulu didominasi pria. Aktor politik perempuan seringkali berada dalam posisi yang sulit untuk berjuang menegakkan derajat hak politiknya. Aktor politik perempuan acapkali di tepi dan mereka berjuang tanpa embel-embel keturunan sebagai ratu dari sebuah dinasti elite politik.

Di sisi lain, kultur maskulin tubuh partai politik menghambat gerakan kemajuan politik perempuan. Di sinilah tantangan bagi politisi perempuan untuk lebih meningkatkan kapasitas, kualitas, dan tentu moralitas. Mereka harus menolak terhadap rayuan dan godaan sebagai mediator para koruptor.

Hampir setiap partai sudah melakukan berbagai upaya meningkatkan peran perempuan dalam politik dan kapasitas kader perempuannya. Kelahiran regulasi untuk memperkuat keterwakilan perempuan di parlemen melalui UU Nomor 2/2011 tentang Parpol. Dalam UU itu secara eksplisit diwajibkan ada 30% perempuan dalam struktur pengurus harian parpol.

Dalam Pasal 55 ayat 2 UU Nomor 10/2008 tentang Pemilu, ada penegasan bahwa di antara tiga nama dalam daftar caleg harus ada minimal satu caleg perempuan. Namun, kuota 30% untuk perempuan itu seakan sia-sia, aktor politik perempuan acapkali tersumbat oleh kultur politik yang maskulin, primordial, dan elitis. Maka timbul pertanyaan, apa guna perempuan berpolitik?

Rahim politik

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri memang telah mengukir sejarah panggung politik Indonesia. Meskipun mewarisi nama besar Bung Karno, tetapi tak salah untuk diapresiasi. Megawati adalah perempuan pertama yang pernah menjadi presiden di republik ini.

Ong Hok Ham (2002:212) pernah bercerita mengenai catatan simpatik kepemimpinan perempuan di Asia. Di Vietnam, Truong bersaudari dianggap sebagai pahlawan nasional dan cikal-bakal nasionalisme Vietnam. Selain itu, Menteri Luar Negeri Vietcong juga seorang perempuan. Vietnam sangat berkebudayaan Konfusianis dan memfokuskan diri pada peran lelaki, tetapi mereka melihat perempuan sebagai unsur propaganda terbaik bagi aspirasi revolusioner.

Dalam konteks sejarah perjuangan perempuan di tanah air, RA Kartini menjadi ikon yang diperingati setiap tahun di negeri ini. Namun, hendaknya itu bukan sekadar momen karikatif bagi perjalanan perjuangan politik perempuan. Di tengah riuh suara politik lelaki yang mengisi ruang politik, semestinya kekuatan politik perempuan mampu lebih unjuk peduli dalam memerjuangkan ribuan, bahkan jutaan perempuan yang kelam masa depan.

Kultur politik itu adalah hasil reproduksi dan rekonstruksi. Dalam hal ini, pesona kreatif (perempuan) memiliki kekuatan transformatif dan transendensi yang mampu merubah kultur. Seperti yang kita ketahui, terdapat beberapa kelompok yang mampu mengubah masyarakat dan bangsa, yaitu pimpinan kharismatik, politisi dan tokoh intelektual.

Oleh karena itu, perubahan yang dilakukan oleh kekuatan politik perempuan maupun kelompok elite politik perempuan, memiliki kemungkinan yang tinggi untuk diterima masyarakat luas. Harapannya, perubahan yang dilakukan oleh kekuatan politik perempuan memiliki kemungkinan yang tinggi untuk diterima secara lebih bermakna oleh masyarakat politik.

Sepasang sayap burung
Persepsi tentang lelaki dan perempuan memang mempunyai kekuatan substansial dalam perubahan perilaku. Namun, perempuan mempunyai kekuatan dalam menggerakkan dan mendorong kekuatan-kekuatan nyata yang ada dalam masyarakat. Bung Karno pernah mengungkapkan perumpamaan bahwa pria dan wanita adalah sepasang sayap burung. Kedua sayap itu berjalan tak timpang dan dapat terbang dengan lancar.

Clara Zetkin (1857-1933), pencetus Hari Perempuan Sedunia pernah mengatakan, mesin-mesin yang merupakan alat produksi modern perlahan-lahan mematikan produksi domestik dan membuat ribuan perempuan bertanya, ā€œDi manakah kita akan mencari makan sekarang?ā€

David Krisna Alka
Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah dan Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity

Harian Kompas, 4 Mei 2012
http://cetak.kompas.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here