SHARE
Aku membayangkan sudah tiba di Jakarta. Jika aku naik bus, kulewati kota-kota, desa-desa, hutan belantara, lahan kering, jurang terjal, dan mampir tiga kali di rumah makan. Kemudian tertahan lama di pelabuhan. Arus balik yang memacetkan.  Ribuan kendaraan antri kembali ke Jakarta. Perantau lama meneruskan perjuangan. Pendatang baru berharap perubahan.

Aku membayangkan sudah tiba di Jakarta. Jikalau aku naik pesawat, menenteng tas berlagak orang metropolitan, padahal ‘jemau Manna’. Ketika tiba di Bandara Fatmawati, lebih ramai para pengantar daripada yang pergi. Lalu aku duduk di ruang tunggu. Menunggu keberangkatan pesawat bak menanti jodoh, selalu tertunda atau menunda. 
Aku membayangkan sudah berada di Jakarta. Setelah peluk emak dan ayah melepas kepergianku dengan mata bermutiara. “Nak, ke mana pun cita-cita hidup kau renggut, kita bakal bertemu” kira-kira begitulah isyarat mata mereka berkata.
Aku membayangkan sudah berada di Jakarta. Setelah menapak kota masa kecil, tempat bermain masa lalu; menggelindingkan ban dengan tepisan belahan bambu, bermain bola di lapangan benteng atau lapangan tugu, di pantai bermain gundu, bermain tenis meja di Masjid Agung Bengkulu, betinju dengan kawan main dalam risau emakku.
“Oh, desau masa kecil, kota masa lalu. Ayun kota kecil, jejak masa lalu. Semoga kembali bertemu.”
Bengkulu, 27 Agustus 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here