SHARE

Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya, mantan menteri Agama Dr Tarmizi Taher.  Almarhum yang akrab disapa Buya Tarmizi ini wafat pada usia 76 tahun. Selama menjabat sebagai menteri Agama dia banyak menelurkan ide baru bagi Kementerian Agama, seperti sistem komputerisasi haji terpadu (Siskohat) dan juga Dana Abadi Umat (DAU). Sebelum menjadi menteri, Tarmizi Taher adalah prajurit TNI AL dengan pangkat terakhir laksamana muda.

Sosok Tarmizi Taher dinilai banyak sa-habatnya sebagai tokoh yang agak unik sekaligus langka. Pria yang lahir di Padang pada 7 Oktober 1936 itu dikenal sebagai tentara, dai, intelektual Muslim, dan seorang dokter.

Dengan segala status yang pernah disandangnya tersebut, Tarmizi Taher adalah putra Taher Marah Sutan, seorang teman dekat Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan RI (baca: Memoir Mohamad Hatta, 1979). Tarmizi Taher juga seorang yang menguasai beberapa bidang ilmu sekaligus produktif menulis. Beberapa karyanya ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab.

Tanggung jawab

Satu hal yang tak pernah berubah dari Tarmizi hingga akhir hayatnya adalah hidupnya yang sekuat mungkin diabdikan dan dipergunakan untuk ke-pentingan umat dan kebaikan negeri ini. Baginya, hidup adalah dakwah, yang berarti bagaimana memanfaatkan hidup yang diberikan kepada kita dapat berguna bagi orang lain. Karenanya, selama hidupnya Tarmizi Taher berkutat dengan dakwah, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Sejak menjadi tentara, ia memang lebih dikenal teman-temanya sebagai Pak ustaz. Ini karena ia dianggap lebih da – lam memahami agama ketimbang te- man-teman sejawatnya, meski ia tidak pernah menempuh pendidikan pesantren secara formal. Puncaknya, ia dipercaya sebagai kepala Pusat Pembinaan Mental (kapusbintal) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dakwah bagi Tarmizi adalah per-soalan tanggung jawab. Dalam bukunya Menuju Ummatan Washatan(1997) Tarmizi mengatakan, “Saya yakin bahwa seorang mushalli (orang yang menger- jakan shalat) yang baik tidak hanya berpuasa selama bulan Ramadhan atau memberikan zakat, tetapi Islam pada dasarnya berbicara tentang sikap tang- gung jawab.”

Itulah mengapa Tarmizi selalu konsisten menjalankan peran yang di- jalaninya sebagai seorang Muslim. Ia te tap berdakwah saat memangku mau – pun ketika tak lagi menjabat. Tarmizi juga punya satu prinsip bahwa dakwah harus dilakukan secara ramah dan tidak mengumbar kemarahan.

Dakwah moderat

Tarmizi Taher amat menyayangkan cara-cara dakwah yang dilakukan secara tidak santun bahkan kadang merusak. Ia sepakat bahwa setiap pendakwah memiliki karakter berbeda ketika menyampaikan dakwahnya. Namun, ia menegaskan, jangan lagi diiringi kekerasan, bahkan dakwah yang hanya berisi hujatan bukanlah cara yang diajarkan Islam.

Tarmizi dalam dakwahnya memang dikenal banyak orang sebagai pengerek `Islam mazhab tengah’, yakni Islam yang selalu siap berdialog dengan anasir apa pun tanpa menghilangkan kesejatian Islam itu sendiri. Upaya mazhab tengahnya ini sudah rajin ia lakukan sejak yang bersangkutan menjabat sebagai menteri Agama pada era 1990-an.

Selama hidupnya, upaya dakwah moderat itu terus dilakukan dalam kesibukannya sebagai Ketua Umum De- wan Masjid Indonesia (DMI) dan Dewan Direktur Center for Moderate Muslim (CMM), serta menjadi rektor di Univer- sitas Islam Az-Zahra. Tarmizi juga menekankan bahwa dakwah hendaknya tak hanya berakhir di podium masjid. Karenanya, Tarmizi tak hanya berdak wah bermodalkan mulut dan suara dalam menjalankan misinya.

Sebagai seorang dokter, ia juga aktif di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengurusi penanggulangan HIV/ – AIDS serta masalah narkotika dan obat- obatan terlarang. Tarmizi pula yang kerap mengampanyekan untuk tidak mengu- cilkan orang dengan HIV/ AIDS (ODHA), sebutan untuk penderita HIV/AIDS.

Satu kali Tarmizi bercerita tentang seorang muda yang mempertanyakan di mana keadilan Tuhan. Anak muda itu bertanya, mengapa ia sampai dihinggapi HIV/AIDS sebab ia tak pernah sekalipun melakukan aktivitas seks yang menyimpang. Mendengar cerita anak muda yang sedikit “menggugat” Tuhan tersebut, Tarmizi pun menyemangatinya bahwa dunia ini belum kiamat untuknya. Kata Tarmizi, masih banyak jalan untuk berbuat baik dan berbagi atas pengalamannya kepada orang lain.

Begitulah sosok Tarmizi Taher. Visi dakwahnya meneropong jauh ke depan demi perubahan serta kemajuan bagi umat dan bangsa. Selamat jalan Buya Tarmizi.

Republika, 14/2/2013

David Krisna Alka

http://epaper.republika.co.id/main

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here